Review Film Kapan Pindah Rumah (2021) - Bagaimana Bila Anak Ingin Mandiri?
Ini bener bener film yang sama sekali ga kerasa kalo lagi nonton film, alias pas nonton film ini tuh vibesnya kayak ringan, terus ga capek mikir, terus alurnya mengalir gitu aja. Persis mirip mirip dengan perasaanku ketika nonton How to Make Millions Before Grandma Dies.
Sedikit Cuplikan Film Kapan Pindah Rumah
Sosok Ibu Single Parent dan Anak-anaknya yang Sudah Dewasa
Film ini tuh bercerita tentang sebuah keluarga. Bu Arum yang berperan sebagai sosok ibu memiliki tiga orang anak yakni Cakra, Lulu dan Kanaya. Dua dari tiga orang anak ini sudah memiliki keluarga yaitu Cakra dan Lulu. Cakra ini punya seorang istri namanya Tami dan seorang anak laki-laki namanya Fian. Lulu juga punya seorang suami namanya Damar dan anak perempuan yang bernama Inez. Mereka semua tinggal di dalam satu rumah yang sama yakni di rumah Bu Arum. Suami dari Bu Arum sudah meninggal dunia.
Awal Mula Konflik
Suatu hari
Cakra meminta izin kepada Bu Arum untuk pindah ke Bandung, dikarenakan Cakra
dipindahtugaskan, dan harus membawa serta istri dan anaknya. Pada awalnya Bu
Arum sebenarnya tidak ingin membiarkan Cakra untuk pindah rumah. Akan tetapi
dikarenakan Cakra adalah anak laki-laki satu-satunya, Bu Arum tidak memiliki kuasa
untuk melawan Cakra. Hingga saat Cakra hendak berpamitan, Bu Arum berdiam di
kamarnya enggan untuk mengantar kepergian anak sulungnya.
Semenjak
kepergian Cakra, Bu Arum semakin sering sendirian di kamarnya, membaca buku.
Pada awalnya memang terasa sepi karena penghuni di rumahnya berkurang. Akan
tetapi Lulu, Kanaya dan juga suami Lulu yakni Damar berusaha untuk menghibur Bu
Arum.
Pada suatu
hari, tibalah saatnya dimana Lulu juga memiliki keinginan untuk hidup mandiri
bersama keluarga kecilnya dan pindah ke rumah baru. Ketika Lulu mengutarakan
keinginannya pada ibunya, Bu Arum sama sekali tidak mengizinkan Lulu. Terjadi
perdebatan di antara keduanya selama beberapa scene. Lulu yang merasa ingin
hidup mandiri, berumah tangga dengan keluarganya sendiri, ingin segera keluar
dari rumah Bu Arum, sedangkan Bu Arum yang kesepian ingin Lulu tetap dirumah.
Sebenarnya Bu Arum hanya butuh teman bicara aja gak sih?
Kanaya yang
merasa pusing dengan perdebatan antara ibu dan kakaknya itu kemudian bercerita
kepada Harsha, seorang laki-laki yang memiliki kedekatan dengan Kanaya dan
sering kemana-mana bersama dengan Kanaya. Kemudian Harsha pun mengusulkan,
bagaimana kalau Bu Arum di jodohkan saja dengan Pak Gusti, yang juga teman dari
almarhum suami Bu Arum.
![]() |
| Bu Arum dan Pak Gusti |
Kedekatan
antara Bu Arum dan Pak Gusti akhirnya menyadarkan Bu Arum bahwa anak-anaknya
bukanlah anak kecil lagi yang bisa diatur-atur untuk memenuhi rasa kesepian
yang dialami oleh Bu Arum. Apalagi Lulu juga sudah memiliki keluarganya
sendiri. Pada akhirnya dari situ lah, Bu Arum memberikan izin kepada Lulu untuk
pindah rumah bersama dengan suami dan anaknya.
Opiniku
Perasaan Bu Arum maupun anak-anaknya sama-sama valid!
Seperti yang aku katakan di awal tadi, film ini tuh ringan banget. Ketika kamu menonton film ini kamu rasanya seperti sedang terbawa oleh arus cerita yang tenang, akan tetapi beberapa kali kamu terantuk oleh batu-batu yang menghalangi, namun itu tidak membuat arus tersebut terhenti. Contohnya ketika terjadi konflik antara Bu Arum dan Lulu, mungkin penonton akan terbagi menjadi dua kubu pemikiran. Mereka yang setuju dengan Bu Arum, dimana mereka paham perasaan seorang ibu yang kesepian ketika anak-anak nya sudah dewasa dan sudah memiliki kehidupan sendiri memutuskan untuk pindah dari rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat mereka di besarkan. Dan mereka yang setuju dengan Lulu, dimana mereka sudah memiliki keluarga sendiri dan ingin memiliki kebebasan untuk membina rumah tangga nya secara mandiri tanpa campur tangan dari orang tua.
Menurutku
perasaan keduanya valid dan tidak ada yang salah. Akan tetapi memang, ini harus
di diskusikan antara ibu dan anak. Seperti pada saat perdebatan antara Lulu dan
Bu Arum, menurutku itu adalah salah satu cara supaya mereka dapat mencurahkan
masing-masing perasaan yang mereka alami. Hingga akhirnya sebuah solusi pun
didapat bahwa untuk menangani rasa sepi yang dirasakan Bu Arum, Bu Arum bisa
mencoba berbagai kegiatan dan juga mencoba untuk bergaul. Pada akhirnya Bu Arum
pun bisa merasakan apa yang Lulu rasakan dan semua berakhir dengan damai dan
bahagia.
Penggambaran
dari rasa kekeluargaan pada film ini sangat hangat dan juga kental.
Pengikutsertaan Kanaya sebagai anak bungsu pun tidak terlupakan meskipun
konflik yang terjadi disini antara Bu Arum dan Lulu. Bahkan bisa dibilang
Kanaya lah yang paling berperan untuk bisa menemukan solusi dari masalah Bu
Arum dan Lulu dibantu dengan Harsha.
Penilaian - Recommended gak sih?
Selain itu
akting yang diperankan oleh aktor-aktor nya juga terasa natural. Kita seperti
disajikan gambaran sebuah keluarga yang real, tidak ada kekakuan di antara para
pemain seolah-olah mereka memang keluarga asli. Untuk dialog yang terjadi
antara pemain juga santai, menggunakan logat "lo gue" bagi
orang-orang yang sepantaran dan ketika dialog terjadi antara yang muda dengan
yang tua juga sopan tetapi juga masih santai. Pokoknya enak banget nonton film
ini. Overall menurutku penilaian dari film ini 8/10. Solusi yang ditawarkan
untuk memecahkan konflik antara Lulu dan juga Bu Arum agak terkesan
dibuat-buat. Apalagi tiba-tiba tercetus ide untuk menjodohkan Bu Arum dengan
orang lain itu menurutku agak kurang aja, karena terkesan seperti sebuah solusi
instan. Untungnya dari solusi itu, pembawaan Pak Gusti sebagai sosok yang
dijodohkan dengan Bu Arum berhasil membawa pengaruh positif kepada Bu Arum
lewat cerita-ceritanya ketika Pak Gusti sedang bersama dengan Bu Arum.
Menurutku
mungkin bagi sebagian orang, film ini akan terasa membosankan karena alurnya
yang bisa dibilang gitu-gitu aja, mainstream, dan juga terlalu ringan. Tapi buatku
yang memang menyukai film-film santai, aku suka banget sama film ini.
Dari film ini juga kita tau, bukannya orang tua bermaksud untuk membatasi kita, atau membuat kita tertekan, tetapi mereka hanya ingin diperhatikan dan juga ingin anak anak nya selalu mengingatnya. Selain itu juga orang tua tuh selalu senang kalau kita selalu disisinya, selalu mengunjunginya. Jadi tidak ada alasan ya buat teman-teman pembaca untuk tidak lagi memperhatikan kedua orang tua kita, bahkan ketika kita sudah dewasa pun kita tetap harus berbakti dan menyayangi kedua orang tua kita.
Okeehh!! Karena sudah di akhir review, jadiii segitu dulu aja ya review dari aku. Buat kalian yang bingung mau nonton dimana, Kapan Pindah Rumah tersedia di platform Netflix dan Vidio. Buat kalian yang mau denger versi audion dari review ini boleh mampir ke akun Matcha Podcast via Spotify. Semoga kalian suka dan sampai jumpa di review selanjutnya!




Komentar
Posting Komentar